Sabtu, 26 Januari 2013

Jangan Kambing Hitamkan Anak Bandel




 

Yayah Hidayah, M.si.

Ibu, sosok yang akan terus memberi rasa kasih, sayang, kelembutan, cinta, dan perlindungan kepada anaknya, tanpa kenal batas waktu. Ibu yang baik akan menjadi pahlawan bagi anaknya. Ia akan berjuang mati-matian demi keselamatan anaknya. Maka, jika ada perilaku seorang ibu yang menyia-nyiakan anaknya, berarti ia patut dicurigai memiliki perilaku yang menyimpang.
Sebab, pola asuh yang baik dan memadai semasa balita, sangat urgen demi perkembangan fisik dan psikis anak. Menurut Wenar (1991), ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh, akan menyebabkan perilaku anak yang menyimpang. Karena dampak dari rasa kehilangan akan sangat dirasakan sebagai suatu penolakan atau pengabaian.
Anak balita yang dipisahkan dari orangtuanya, baik karena terpaksa atau disengaja, akan tumbuh dalam jiwanya perasaan tak aman dan tak nyaman. Ia akan mengalami gangguan kepribadian atau kesulitan menyesuaikan diri di masa mendatang.
Dengan pemahaman yang masih terbatas dan sempit tentang suatu kejadian yang menimpanya, anak akan memahami bahwa peristiwa yang ia alami sebagai bentuk penolakan atas keberadaan dirinya. Ia akan merasa tidak cukup dipandang dan tidak berharga di mata keluarganya, hingga tak pantas untuk dicintai. Jika hal ini berlanjut hingga anak menyadari -selepas masa balita-, maka akan timbul trauma dalam pembentukan identitas dan penyesuaian dirinya dalam kehidupan.
Karena itu, perilaku ibu dan kepribadiannya harus diperhatikan, agar perkembangan kepribadian anak yang diasuhnya tidak terganggu. Berikut ini beberapa aspek psikologis negatif ibu yang sangat berbahaya terkait pengasuhan anak.
Gangguan Jiwa
Peneliti Rose Cooper Thomas yang melakukan penelitian terhadap hubungan ibu dan anak, menemukan bahwa ibu yang mengalami gangguan jiwa schizophrenia (kecenderungan perilaku yang acuh tak acuh), dominan atau cenderung akan menghasilkan karakter anak yang perilakunya suka memberontak, jahat, menyimpang, bahkan anti-sosial. Namun ada pula anak akan menjadi suka menarik diri, pasif, terlalu tergantung dan kelewat penurut.
Peneliti lain mengemukakan bahwa gangguan jiwa ibu akan berakibat terganggunya perkembangan identitas anak. Dan gangguan obsesif kompulsif yang dialami orangtua juga sangat erat berdampak pada sikap mereka untuk mengabaikan anaknya. Sebab, gangguan ini menjadikan penderitanya lebih banyak memikirkan dan melakukan ritual-ritual sendiri daripada tanggung jawab mengasuh anaknya.
Ada lagi gangguan kejiwaan ibu yang berbahaya bagi anak. Yaitu Munchausen Syndrome by Proxy (MSbP), berupa gangguan mental yang biasa dialami wanita atau seorang ibu terhadap anaknya. Biasanya terjadi pada bayi atau anak balita.
Dalam penyakit yang digambarkan pertama kali oleh Meadow pada tahun 1977 ini, dideteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari ibu yang terus menerus. Pada kasus yang parah, ibu yang melakukannya justru kelihatan lemah lembut dan baik. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anak. Karena pada banyak kasus, ditemukan ada ibu yang sampai hati menyekap, atau mencekik, bahkan meracuni anaknya.
Pada kasus-kasus ini sering ditemukan adanya sejarah gangguan perilaku antisosial pada ibu, mungkin disebabkan pengalaman yang dialami oleh ibu itu pada pola asuh yang salah dari orang tuanya. Pada kasus lain ditemukan bukti bahwa ternyata ibu tersebut mengalami gangguan somatis seperti contohnya (menurut istilah medis) gangguan neurotik, hypochondria, atau gangguan yang bersifat semu lainnya). Ditemukan pula, bahwa ibu-ibu yang tega melakukan hal ini terhadap anaknya ternyata mengalami gangguan kepribadian yang cukup parah.
Depresi
Peneliti Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996) terhadap anak-anak yang orangtuanya mengalami depresi atau psikopatologi menemukan fakta banyaknya anak yang mengalami penyiksaan fisik. Akibatnya, korban anak-anak dilaporkan mengalami banyak masalah kejiwaan, seperti depresi, interpersonal, perilaku yang aneh dan bermasalah dalam belajar.
Pecandu Minuman
Keluarga alkoholis cenderung tidak stabil. Segala aturan dapat berubah setiap waktu, dan seringnya mudah mengingkari janji. Kecenderungan ini terbawa pula dalam urusan pola asuh mereka terhadap anak. Pola asuh yang diterapkan orangtua alkoholis akan sering berubah-ubah secara acak. Ini menyebabkan tidak ada celah bagi anggota keluarga untuk mengungkapkan perasaan secara norm

Jangan Kambinghitamkan Anak Bandel


Dia Hidayati Usman MA
Dosen STAI Shalahuddin al-Ayyubi Jakarta
Banyak buku ditulis tentang cara mendidik anak. Tapi tulisan mengenai kesalahan mendidiknya jarang kita temukan. Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Sehingga tak heran jika banyak orangtua sangat mudah langsung menyalahkan/mengkambinghitamkan anak ketika melihat si anak sedikit bandel.
Saat Umar ibn Khaththab RA mejadi khalifah, pernah datang seorang ayah melaporkan perbuatan anaknya yang dianggap tidak baik. Umar tak lantas membenarkan laporan tersebut. Ia minta didatangkan anak yang diadukan itu. Dan dari laporan anak, Umar tahu, ada kesalahan si ayah dalam mendidik. Di antaranya, terlalu kasar dan kurang peduli (cuek).
Karena itu, ada baiknya kita perhatikan beberapa kesalahan berikut ini yang umumnya terjadi dalam mendidik anak:
Pertama, berlebihan memenuhi keinginan anak. Tidak sedikit orangtua yang mengira bahwa mewujudkan semua keinginan anak adalah hal terbaik. Padahal sebaliknya. Pada usia tahun pertama, si kecil mungkin masih belum mengerti. Tapi menginjak tahun kedua, ia akan mulai paham dan banyak meminta. Di masa itulah orangtua dapat membiasakan anak untuk memahami batasan hidup, tentang pemborosan, hak orang lain, hingga soal keharusan bersedekah.
Kedua, perfeksionis. Kesalahan terbesar bagi orangtua adalah menuntut anak agar selalu tampil sempurna. Di sekolah ia harus ranking pertama. Tak boleh gagal sama sekali. Anak dipaksa bekerja keras mewujudkannya.
Memang, siapapun pasti ingin anaknya sempurna dan terbaik. Tapi ketika anak tak mampu menggapai harapan, maka ia akan merasa lemah, jiwanya pun akan ditunggangi rasa kekurangan. Sebaiknya, orangtua cukup memberi motivasi dan menumbuhkan jiwa optimis anak agar ia sukses dan sempurna menyikapi segala hal yang dihadapinya.
Ketiga, over doktrin. Maksudnya, berlebihan dalam memberi perhatian kepada anak, sampai pada tingkat mengekang kebebasan bergeraknya. Contoh, ketika si kecil sedang asik bermain dengan mainan yang kesenangannya, tiba-tiba ibu memanggil dan memaksanya untuk mandi, atau melakukan hal lain.
Anak biasanya akan meronta dan menangis. Ia akan merasa telah terampas dan kehilangan saat yang paling menyenangkan. Jika ketidakbebasan itu sering ia rasakan, niscaya jiwa kemandiriannya akan rapuh. Ia akan terus bergantung pada orangtua dalam setiap tantangan dan kesempatan yang dihadapi. Ia tak akan pernah bisa membuat keputusan sendiri.
Keempat, over punishment. Orangtua cenderung mudah memberi hukuman yang tidak sesuai dengan tingkat kesalahan anak. Ketika sebuah kesalahan lahir karena ketidakmatangan anak secara akal, maka sangat tak pantas orangtua menghukumnya.
Anak seperti itu, cukup diperingati dan diarahkan. Berbeda dengan anak yang sudah matang akal dan fisik, tapi sering mengulang kesalahan. Ia patut diberi hukuman ringan dan bertahap, sampai pribadinya membaik dan menyadari kesalahannya.
Kelima, lalai. Banyak orangtua tidak menyempatkan diri untuk bermain bersama anak. Padahal, anak sangat butuh kehangatan bermain bersama orangtuanya. Dengan aktivitas ini, jiwa anak akan tenang dan bahagia, karena banyak hal yang bisa ditanyakan dan dibagi saat bermain bersama.
Dengan bermain bersama, orangtua juga akan tahu perkembangan jiwa dan fisik anak secara langsung. Hingga kemudian orangtua akan mudah membelikan mainan yang cocok dan disenangi anaknya.
Keenam, membeda-bedakan perlakuan antaranak. Kecenderungan ini memang agak sulit untuk dihindari, karena kadang terjadi akibat perbedaan usia dan tuntutan anak. Namun bagaimanapun juga, orangtua harus bijak menyikapinya, agar tak timbul rasa iri dan permusuhan di antara anak. Patut diingat, wilayah ini sangat sensitif, dan menuntut kehati-hatian orangtua melakoninya.

 

al, karena banyaknya batasan, aturan dan larangan dalam keluarga.
Karena hal ini merupakan aib keluarga, biasanya anggota keluarga akan menutupnya agar tidak diketahui orang lain. Situasi ini akan melahirkan perasaan tertekan, frustrasi, marah, tidak nyaman dan gelisah di hati anak. Ia akan sering berpikir bahwa ia telah melakukan suatu kekeliruan yang menyebabkan orangtuanya memiliki kebiasaan buruk. Akibatnya, akan timbul rasa tak percaya, kesulitan mengekspresikan emosi secara tepat, dan kesulitan menjalin hubungan sosial yang erat. Dan masalah ini akan terus terbawa hingga ia dewasa.
Menurut para ahli, anak-anak dari keluarga seperti ini lebih beresiko mengembangkan kebiasaan alkoholis di masa dewasa. Menurut Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996), para pecandu obat terlarang, menjadi faktor paling umum penyebab terjadinya penyiksaan dan pengabaian terhadap anak, dan pengasuhan anak dengan cara yang keliru.
Masalah Perkawinan
Keluarga yang bermasalah, akan berpengaruh pada ketidak-keharmonisan keluarga, dan dampaknya akan buruk pada kehidupan emosional anak. Karena para anggota keluarga akan kian merasakan beban mental atau tekanan emosional yang terus meningkat. Beban ini akan semakin berat apabila suasana keluarga terasa mencekam, tak ada yang berani mengemukakan emosi, pikiran, dan tiada lagi keleluasaan untuk bertindak.
Pada umumnya, anak akan menjadi korban pelampiasan ketegangan, kecemasan, kekesalan, kemarahan dan segala emosi negatif yang tidak bisa dikeluarkan itu. Sebab, anak berada pada posisi lemah, sehingga mudah menjadi sasaran agresivitas orangtua tanpa perlawanan.

Doa Sebagai Obat



Doa Sebagai Obat

 

Prof Dadang Hawari
Dosen Pascasarjana Fakultas Psikologi Uiversitas Indonesia, Penulis BukuMatthews (1996) dari Universitas Georgetown.

Amerika Serikat melaporkan, dalam pertemuan tahunan The American Association for the Advancement of Science (1996) tercuat ide bahwa mungkin suatu saat kelak, tugas para dokter bukan lagi hanya menuliskan resep obat, tapi juga menuliskan doa dan dzikir pada kertas resep sebagai pelengkap.
Sebab, dari 212 studi yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya, ditemukan 75% responden menyatakan bahwa komitmen agama (berdoa dan berdzikir) berpengaruh positif pada kesehatan pasien. Hanya 7% yang berkesimpulan tidak. Selanjutnya dikemukakan, manfaat terapi keagamaan ini sangat baik, terutama bagi penderita NAZA (narkotika, alkohol, zat adiktif), depreso, kanker, hipertensi, (tekanan darah tinggi) dan penyakit jantung.
Ada pula survei yang dilakukan oleh Majalah Time, CNN, dan USA Weekend (1996), menyingkap lebih dari 70% pasien percaya bahwa keimanan terhadap Tuhan, doa dan dzikir dapat membantu mempercept proses penyembuhan penyakit. Sementara lebih dari 64% menyatakan agar para dokter hendaknya juga memberikan terapi keagamaan (terapi psikoreligius), antara lain dalam bentuk doa dan berdzikir. Penelitian ini mengungkap kebutuhan para pasien kepada terapi keagamaan, selain terapi obat-obatan dan tindakan medis.
Synderman (1996) juga pernah melakukan penelitan tentang hubungan komitmen agama dan ilmu pengetahuan (terapi medis) untuk mendukung temuan-temuan sebelumnya. Kesimpulan yang didapatnya, terapi medis tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah lengkap. Sebaliknya pula, doa dan dzikir tanpa disertai terapi medis, juga tidak efektif.
Christy (1998) dalam penelitian berjudul Prayer as Medicine, mendukung kesimpulan penelitian pendahulunya (Snyderman) dan menyatakan bahwa doa dan dzikir juga merupakan “obat” bagi penderita, selain obat dalam pengertian medis. Ia menyimpulkan, “medicine” (obat) yang diberikan kepada penderita mengandung dua arti. Yaitu “prayer” (doa) dan “drugs” (obat/pil). Drugs yang dimaksud di sini adalah medicine dan bukan NAZA.
Dari hasil-hasil penelitian-penelitas di atas, dapat disimpulkan bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaat bidang klinik (religius commitment is associated with clinical benefit). Dan pendapat Snyderman (1996) benar adanya, bahwa terapi medis saja tanpa disertai doa dan dzikir tidaklah lengkap. Sedangkan doa dan dzikir tanpa disertai terapi medis juga tak akan efektif.
Dalam ajaran agama Islam, seseorang yang sedang menderita penyakit fisik maupun psikis (kejiwaan), diwajibkan untuk berusaha berobat kepada ahlinya (dokter/psikiater), disertai dengan berdoa dan berdzikir (HR. Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi).
Sebagai ilustrasi, dalam sebuah hadits disebutkan, suatu hari Rasulullah SAW kedatangan seorang Sahabat yang mengadu bahwa anaknya yang sakit dan tak kunjung sembuh. Padahal ia sudah banyak mengerjakan shalat, berdoa, berdzikir dan berpuasa, agar anaknya lekas sembuh. Nabi bertanya kepada Sahabat itu, apakah anaknya sudah dibawa ke tabib (dokter). “Belum,” jawab Sahabat itu. Kemudian Nabi menasehati agar segara mengobati anaknya itu kepada ahlinya (tabib/dokter), disertai dengan doa dan dzikir. Tak lama setelah berobat, anak itu pun sembuh.
Dapat ditarik kesimpulan, terapi secara ilmu pengetahuan (terapi medis) dan terapi keagamaan (doa dan dzikir) hendaknya dilakukan bersama-sama. Karena, Allah dan Rasul-Nya memang telah memerintahkan demikian. “Aku mengabulkan permohonan yang mendoa apabila berdoa kepada-Ku.” (Qs. al-Baqarah [2]: 186) “Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah sepanjang waktu.” (HR Aisyah RA).

 


Manisnya kejujuran

Manisnya Kejujuran


Ustadz Yusuf Mansur

Ketika yang lain bicara bahwa kejujuran itu pahit. Tuhan berkata, Tidak! Kejujuran selalu manis, hanya perlu kesabaran sebagai pupuknya.

Suatu hari, Parni mencoba membujuk suaminya, Riyadi, untuk terus terang kepada pimpinan di kantornya, “Sudah Mas, lebih baik Mas terus terang saja ke bos Mas. Sebelum semuanya terlambat. Biasanya sih kejadian nanti tidak seburuk yang kita bayangkan.”
Parni tak tega melihat suaminya gelisah. Ia meminta sang suami berterus terang telah melakukan pencurian di kantor baru-baru ini.
Sudah 15 tahun Riyadi bekerja sebagai karyawan di bagian pergudangan di kantornya. Nyaris tiada cacat berarti yang ia lakukan. Tapi suatu ketika, Agus, anak tertua Riyadi, sudah lebih dari empat bulan menunggak bayaran sekolah. Kalau tak lekas dibayar, Agus akan dikeluarkan dari sekolah.
Meski sudah kerja belasan tahun, tapi status maupun penghasilan Riyadi selalu tak berimbang dengan kebutuhan sehari-hari. Ia dan keluarga ‘cukup berhasil’ hidup hemat, selalu berusaha meredam keinginan dan nafsu.

20 tahun kehidupan rumahtangga pun ia lalui bersama istri dengan harmonis, jauh dari kegelisahan. Mereka menerima keadaan dengan lapang dada, nrimo.
Tapi, Riyadi juga masih manusia. Sesekali ia juga punya letupan perasaan tidaknerima. Hatinya suka berkata, bahwa kehidupannya telah dirampok oleh negara. Penghasilannya dirampok oleh begitu tingginya harga-harga kebutuhan hidup yang pokok.
Sering juga ia putus asa. Utamanya ketika tak berdaya membelikan anaknya obat demam menyembuhkan sakit panas yang tak turun-turun hingga tiga atau empat hari. Atau, ketika melihat anaknya yang sering termangu memandangi kawan-kawannya yang sedang jajan.
Ia juga hampir mengorbankan kejujurannya. Berkali-kali ia hampir terpedaya ucapan yang terlanjur memasyarakat: Untuk apa jujur? Jujur itu pahit! Jujur itu miskin! Jujur itu berarti hidup susah! Orang lain juga curang kok! Orang lain juga culas kok! Jadi buat apa kita jujur!
Iman dan kejujuran bisa juga menghilang dari diri Riyadi. Apalagi kalau diingat, ia telah bekerja tanpa penghargaan yang memadai. Tapi tak jarang ia segera ingat, semuanya adalah keputusan Allah. Dan Allah masih memberinya harapan hidup di negeri akhirat.
Kalaulah ia miskin di dunia ini, ia masih berharap kelak akan hidup bahagia di negeri kemudian. Begitu yang sering ia dengar dari para ustadz, bahwa keberadaan akhirat adalah sebagai penyempurna segala kejadian yang dianggap oleh manusia sebagai ketidakadilan.
***
Ya, Riyadi juga masih manusia. Kali ini ia begitu tersudut oleh kenyataan bahwa ia hidup di negeri yang manusianya sudah nafsi-nafsi, sendiri-sendiri. Ia juga harus menerima kenyataan, bahwa hidup enak di negeri ini saat ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Ia juga putus asa karena pendidikan yang digelar oleh begitu banyak lembaga pendidikan di Tanah Air, hampir semuanya omong kosong. Kehadiran mereka bukan untuk mencerdaskan bangsa atau membantu sesama. Pendidikan kini sudah menjadi komoditas bisnis yang tak menaruh hati untuk kehadiran orang-orang seperti Riyadi.
‘Keputusasaan’ dan kebutuhan Riyadi ini untuk membayar sekolah anaknya yang sudah lima bulan belum terbayarkan, akhirnya menyeret dia untuk melakukan satu dua perbuatan nekad. Ia curi satu dua barang dari gudang di kantornya. Tapi ia tak mencuri lebih, meski punya kesempatan untuk itu. Ia hanya mencuri seukuran kebutuhannya.
Perusahaan Riyadi bergerak di bidang jual beli barang-barang elektronik. Dari radio kecil, hingga televise ukuran setengah kamarnya diproduksi dan dijual perusahaannya. Tapi Riyadi hanya mengambil mini compo untuk ia uangkan.
Ketika dilakukan pemeriksaan rutin oleh kantornya, Riyadi luput. Ia tak masuk daftar orang-orang yang dicurigai. Lantaran tak ada orang yang meragukan kejujuran Riyadi. Termasuk atasannya.
Masalah pencurian ini akhirnya di”peti-es”kan. Lagi pula, barang yang hilang itu tidak besar, menurut bosnya. Kejadian tersebut hanya dijadikan pelajaran agar kewaspadaan ditingkatkan lingkungan kantornya.
Sang waktu pun berjalan sebagaimana biasa. Masalah bayaran sekolah Agus, anaknya, terbayarkan oleh hasil jual barang curian. Riyadi bernafas lega. Satu masalah selesai. Paling tidak ia sudah tidak diuber-uber tagihan SPP sekolah anaknya.
Tapi kemudian hadir masalah lain. Bahkan kali ini lebih menyiksa perasaannya. Riyadi terus diburu perasaan bersalah!
Seperti umumnya rakyat kecil, kalau bersalah itu akan terus dianggap sebagai kesalahan. Kehidupannya pun menjadi tidak tenang, dan terus gelisah. Berbeda sekali dengan kebanyakan orang terpandang, terhormat, atau pandai di negeri ini. Bila berbuat kesalahan, lebih sering menganggapnya sebagai ‘kesalahan manusiawi’, atau ‘kesalahan yang tidak terlalu prinsip’. Mereka pun bisa tenang. Bahkan tetap tenang untuk terus menerus melakukan kesalahan-kesalahan baru, dan berusaha menutupinya dengan ‘baju kewenangan’, atau ‘baju kekuasan dan kepintarannya’.
Ya, Riyadi hanya ‘orang kecil’ yang berjiwa besar. Ia bersalah dan merasa bersalah. Kegelisahan dan ketidaktenangan itu semakin menjadi-jadi. Ia khawatir, Allah sangat marah kepadanya dan akan menghadirkan kesulitan-kesulitan yang lebih besar lagi kepadanya.
Ia sangat khawatir ajalnya akan sampai, sementara ia sedang melakukan kesalahan yang menurutnya sangat fatal. Ia merasa upayanya untuk berjalan lurus akan sia-sia. Di usianya yang akan memasuki paruh baya, ia malah menghanguskan kebanggaan diri yang dulunya susah, tapi mampu tak memakan harta yang haram.
Dirinya memang susah, tapi ia dan keluarga tak pernah menyusahkan orang lain. Dirinya bodoh, tapi tak pernah membodohi orang lain.
Setelah mencuri, semua prinsip ini terasa terlanggar. Ia seakan melihat Allah sedang marah kepadanya, dan setan justru tengah menertawai dirinya yang dapat goyah oleh kebutuhan hidup. Ketika masalah pencurian diputihkan oleh pihak kantornya, ia justru melihatnya sebagai kemarahan Allah yang tertunda.
Sejak itu, hari-hari ia lalui dengan stres. Mukanya selalu kusut. Hatinya sebentar-bentar dag-dig-dug. Engga boleh mendengar kucing jatuh dari meja atau ketukan pintu dari para tetangga, hati dan batinnya terus tersiksa. Ia merasa sedang duduk di atas kursi mewah yang berduri.
Dalam situasi inilah sang istri mencoba menyarani untuk berterus terang kepada pihak kantor. Kalau memang dipecat, ya sudahlah dipecat. Siapa tahu akan ada kehidupan yang lebih baik. Syukur-syukur jika bisa dimaafkan.
Semua keluarganya mendukung nasihat sang istri ini. Tak terkecuali Agus, anaknya. Ia bahkan bilang, “Kalo tau Bapak membayar SPP dari uang haram,mendingan Agus berhenti sekolah!”
Agus khawatir, kalau ia disekolahkan lewat uang haram, maka kepintarannya kelak akan menjadi bumerang buat diri dan keluarganya sendiri. Bila melanjutkan sekolah dengan uang haram, ia khawatir akan dekat dengan hal-hal yang Allah haramkan. Luar biasa!
***
Mantap sudah niat Riyadi untuk segera berterus terang kepada pihak kantornya. Apapun yang akan terjadi terjadilah, kata batinnya. Ia hanya berharap Allah mau mengampuni. Itu saja!
Ia tak berharap bos akan mengagumi keberaniannya berterus terang. Ia justru siap dengan segala risiko, sepahit apapun. Daripada nanti ditunda hukumannya di akhirat, begitu tekadnya. Riyadi juga yakin, jika kebusukan lebih lama disimpan, maka baunya akan lebih busuk lagi.
Akhirnya, begitu Riyadi bicara keadaan yang sebenarnya kepada pihak kantor, ia pun dipecat! Alasan si bos, ia tidak pernah menolerir satu kejahatan pun terjadi di kantornya.
Sampai di sini, tidak ada happy ending. Riyadi yang selama ini digaji murah, tak diberi tunjang kesehatan apalagi keperluan-keperluan mendadak, sudah 15 tahun menjaga kejujuran dan loyalitas kepada perusahan, tetap harus menelan ludah pahit. Dipecat!
Riyadi sadar, ia hanya orang kecil. Ketiadaannya tak akan berpengaruh banyak bagi kelancaran gerak perusahaan. Untung sebelumnya ia sudah memersiapkan diri untuk tidak membayangkan si bos akan mengagumi kejujurannya. Jadi, Riyadi tak perlu sakit hati.
Tapi Allah tidak buta! Ketika Dia melihat ‘perjuangan’ Riyadi yang luar biasa ini, ditambah keikhlasannya menjalani kehidupan, saat itu pula keputusan terbaik-Nya Dia turunkan untuk Riyadi.
Allah kemudian menunjukkan kebenaran perkataan-Nya, bahwa ujung kehidupan antara yang baik dan yang jahat itu berbeda. Riwayat kehidupan di kemudian hari antara orang yang menjaga iman dengan yang menukarnya dengan dunia tak akan sama. Allah pun menunjukkan kebesaran-Nya pada keluarga Riyadi.
Dengan modal pesangon yang hanya dua juta rupiah, Riyadi membuka bengkel motor. Rupanya inilah ‘jalan hadiah’ dari Allah. Bengkelnya maju pesat, lebih maju dari yang ia bayangkan.
Dulu, ia sekadar berprinsip, jangan sampai uang pesangon habis sekadar untuk makan. Kejujuran Riyadi membuat para pemilik kliennya percaya kepada Riyadi untuk mengurusi kendaraannya yang rusak.
Sampai hari ini, bengkel milik Riyadi memang tetap ‘kecil’. Tapi, antrean pelanggan yang minta dilayani sangat banyak. Bahkan mereka rela masuk daftarwaiting list, menunggu pelayanan.
Bengkel Riyadi berada di pertigaan jalan antara Ketapang dan Gondrong, di wilayah Tangerang, Banten. Anaknya, Agus, kini juga sudah mengelola bengkel sendiri di bilangan Ciledug, Tangerang. Brand yang mereka pakai adalah “Berkah Motor”.
Bagi Riyadi dan keluarga, kejujuran berarti keberkahan. Dan ketidakjujuran berarti akan menghilangkan keberkahan. Kaya tapi tidak berkah, sama saja dengan kekayaan yang sia-sia, kekayaan yang tak bisa dinikmati.
Ada ujung kehidupan yang manis, yang akan Allah hadiahkan untuk semua orang yang bisa memelihara dirinya dan menghargai Tuhannya. Sementara, ada malapetaka yang besar dan ujung kehidupan yang pahit, untuk siapa saja yang tidak memelihara diri dan melupakan Tuhannya. Sang waktu yang akan berbicara.